Diberdayakan oleh Blogger.

TopMenu

Like Us On Facebook

Kamis, 13 Februari 2014

Cerita Rakyat Gunung Kelud (Sumur Lembu Sura)

Raja Brawijaya penguasa kerajaan Majapahit, mempunyai seorang putri
yang cantik yaitu Dyah Ayu Pusparani. Putri ini memang benar-benar
ayu sesuai dengan namanya. Banyak raja dan pangeran yang melamar
untuk dijadikan permaisuri. Prabu Brawijaya bingung memilih calon
menantu. Lalu raja mengadakan sayembara siapa yang bisa merentang
busur sakti Kyai Garodayaksa dan sanggup mengangkat gong Kyai
Sekardelima, dialah yang berhak menikah dengan Putri Pusparani.
Para pelamar menguji kemampuannya namun ternyata tak satu pun yang
sanggup merentang busur apalagi mengangkat gong yang sangat besar
itu.
Menjelang akhir sayembara itu datang seorang pemuda berkepala lembu
yaitu Raden Lembu Sura atau Raden Wimba. Dia mengikuti sayembara itu
dan berhasil merentang busur serta mengangkat gong Kyai Sekardelima.
Dengan demikian berarti Raden Lembu Sura yang berhak menikah
dengan Dewi Pusparani.
Melihat kemenangan Lembu Sura, Putri Pusparani langsung
meninggalkan Sitihinggil. Ia sangat sedih karena harus menikah dengan
pemuda yang bekepala lembu.
Putri itu lari kepada embannya. Dia tidak mau menikah dengan manusia
berkepala binatang, betapapun saktinya. Emban yang setia itu mencari
akal bagaimana agar putri itu batal menikah dengan Raden Lembu Sura.
Dia akhirnya menemukan jalan keluar.
Putri Pusparani disarankan mengajukan syarat kepada Lembu Sura.
Syaratnya, Raden Lembu Sura harus bisa membuat sumur di puncak
gunung Kelud. Mendengar saran embannya, Dyah Pusparani sangat
gembira. Dia segera menyertai ayahnya untuk menemui Lembu Sura.
"Selamat Raden Wimba. Engkau telah memenangkan sayembara dengan
gemilang."
"Terima kasih putri dan kau akan menjadi istriku."
"Saya tahu itu, namun saya masih mengajukan syarat lagi."
"Katakanlah Putri, apa syaratmu itu?"
"Buatkan aku sumur di puncak gunung Kelud. Air sumur itu akan kita
pakai mandi berdua setelah selesai upacara perkawinan."
"Baiklah Putri. Demi cintaku padamu, akan kupenuhi permintaanmu itu."
Raden Wimba putra adipati Blambangan itu segera meninggalkan keraton
Majapahit menuju puncak Gunung Kelud. Dengan kesaktiannya, konon
dia mampu mengerahkan makhluk halus untuk membantunya menggali
sumur di puncak Gunung Kelud.
Ternyata benar, tak lama kemudian Lembu Sura telah menggali cukup
dalam. Melihat hal itu, Pusparani ketakutan, bagaimana pun kalau
Lembu Sura berhasil menemukan air di sumur itu dia harus menjadi istri
Lembu Sura.
Pabu Brawijaya juga kebingungan. Dia bisa memahami perasaan
putrinya. Dewi Pusparani menangis di hadapan ayahnya. Dia memohon
ayahandanya bisa menolongnya.
Akhirnya Prabu Brawijaya menemukan cara. Lembu Sura harus ditimbun
hidup-hidup di dalam sumur itu. Kemudian Prabu Brawijaya menitahkan
seluruh prajurit yang menyertainya untuk menimbun sumur itu dengan
batu-batuan besar. Juga gundukan tanah yang ada di sekitar itu.
Sebentar saja sumur tadi telah rata seperti semula. Lembu Sura tertimbun
di dasarnya.

Meskipun begitu karena dia sakti, dia masih sempat mengancam kepada
Prabu Brawijaya.
"Prabu Brawijaya, engkau raja yang licik, culas. Meskipun aku telah
terpendam di sumur ini, aku masih bisa membalasmu. Yang terpendam ini
ragaku bukan nyawaku. Ingat-ingatlah, setiap dua windu sekali aku akan
merusak tanahmu dan seluruh yang hidup di kerajaanmu."
Setelah suara itu hilang. Seluruh prajurit yang melihat kejadian itu
ketakutan. Begitu pula Prabu Brawijaya dan putrinya. Kemudian Prabu
Brawijaya memerintahkan untuk membuat tanggul pengaman. Tanggul
itu sekarang disebut Gunung Pegat.
Hingga sekarang ini jika Gunung Kelud meletus dianggap sebagai
amukan Lembu Sura untuk membalas dendam atas kelicikan Prabu
Brawijaya.
Cerita rakyat atau legenda ini mirip dengan legenda asal mula Reog
Ponorogo. Lembu Sura yang asalnya seorang putra bangsawan itu
memang seorang pemuda sakti, namun sifatnya berandalan maka
ayahnya menyabda hingga ia dianggap pemuda bodoh seperti kerbau.
Demikanlah cerita rakyat ataupun legenda mengenai Gunung Kelud
(Lembu Sura).

Ditulis Oleh : Unknown // 09.45
Kategori:

0 comments:

Posting Komentar