Diberdayakan oleh Blogger.

TopMenu

Like Us On Facebook

Sabtu, 08 Februari 2014

Kisah Abu Nawas : Baginda Menjadi Budak

Kadangkala untuk menunjukkan sesuatu kepada
sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar
melaporkannya secara lisan. Raja harus
mengetahuinya dengan mata kepala sendiri,
bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang
hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli
budak.
Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas
merencanakan menjual Baginda Raja. Karena
menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang
paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini
Baginda Raja selalu mempermainkan dirinya dan
menyengsarakan pikirannya? Maka sudah
sepantasnyalah kalau sekarang giliran Abu
Nawas mengerjai Baginda Raja.
Abu Nawas menghadap dan berkata kepada
Baginda Raja Harun Al Rasyid. "Ada sesuatu
yang amat menarik yang akan hamba
sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia."
"Apa itu wahai Abu Nawas?" tanya Baginda
langsung tertarik.
"Sesuatu yang hamba yakin belum pemah
terlintas di dalam benak Paduka yang mulia."
kata Abu Nawas meyakinkan.
"Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk
menyaksikannya." kata Baginda Raja tanpa rasa
curiga sedikit pun.
"Tetapi Baginda..." kata Abu Nawas sengaja
tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tetapi apa?" tanya Baginda tidak sabar.
"Bila Baginda tidak menyamar sebagai rakyat
biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak
yang ikut menyaksikan benda ajaib itu." kata
Abu Nawas.
Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja,
maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat
biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.
Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun
Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan.
Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak
Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang
rindang dan memohon Baginda Raja menunggu
di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui
seorang Badui yang pekerjaannya menjual
budak.
Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk
melihat calon budak yang akan dijual kepadanya
dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan
bahwa sebenarnya calon budak itu adalah
teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega
menjualnya di depan mata. Setelah pedagang
budak itu memperhatikan dari kejauhan ia
merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan
surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang
budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri
orang yang sedang duduk di bawah pohon
rindang itu.
Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa
keping uang emas dari pedagang budak itu.
Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di
situ ketika pedagang budak menghampirinya. Ia
belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga
menampakkan batang hidungnya. Baginda juga
merasa heran mengapa ada orang lain di situ.
"Siapa engkau?" tanya Baginda Raja kepada
pedagang budak.
"Aku adalah tuanmu sekarang." kata pedagang
budak itu agak kasar. Tentu saja pedagang
budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun
Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Baginda
Raja dengan wajah merah padam.
"Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku
dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya."
kata pedagang budak dengan kasar.
"Abu Nawas menjual diriku kepadamu?" kata
Baginda makin murka.
"Ya!" bentak pedagang budak.
"Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?"
tanya Baginda geram.
"Tidak dan itu tidak perlu." kata pedagang
budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak
barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al
Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk
membelah kayu. Begitu banyak tumpukan kayu
di belakang rumah badui itu sehingga
memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid
sudah merasa ngeri, apalagi harus
mengerjakannya.
"Ayo kerjakan!"
Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang
kayu dan mencoba membelahnya, namun si
Badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid
memegang parang merasa aneh.
"Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul
kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali!"
Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik
parang hingga bagian yang tajam terarah ke
kayu. Ia mencoba membelah namun tetap saja
pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si
Badui.
"Oh, beginikah derita orang-orang miskin
mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih
dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga."
gumam Sultan Harun Al Rasyid. Si Badui
menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan
pandangan heran dan lama-lama menjadi
marah. Ia merasa rugi barusan membeli budak
yang bodoh.
"Hai Badui! Cukup semua ini aku tak tahan."
"Kurang ajar kau budakku harus patuh
kepadaku!" kata Badui itu sembil memukul
baginda. Tentu saja raja yang tak pernah
disentuh orang itu menjerit keras saat dipukul
kayu.
"Hai Badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al
Rasyid." kata Baginda sambil menunjukkan
tanda kerajaannya.
Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal
Baginda Raja. Ia pun langsung menjatuhkan diri
sembil menyembah Baginda Raja. Baginda Raja
mengampuni pedagang budak itu karena ia
memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas
Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin
rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu
Nawas seperti telur.

Sumber

Ditulis Oleh : Unknown // 08.45
Kategori:

0 comments:

Posting Komentar